Di sekolah Katolik, pendidikan tidak hanya soal sains dan matematika. Ada satu dimensi yang tak kalah penting: spiritualitas. Inilah yang membedakan pendidikan Katolik — menyatukan pengembangan intelektual dengan pertumbuhan iman. Di Yogyakarta, sekolah-sekolah Katolik menjadikan spiritualitas sebagai fondasi pembentukan pribadi yang utuh.
Pendidikan iman di sekolah Katolik bukan sekadar pelajaran agama. Ia hadir dalam kehidupan sehari-hari siswa: dalam doa pagi, perayaan ekaristi, kegiatan retret, dan aksi nyata kasih. Siswa diajak mengalami Tuhan dalam relasi antarteman, kegiatan sosial, dan dalam refleksi harian.
Contohnya, SMP dan SMA Katolik di bawah Yayasan De Britto atau Yayasan Kanisius menyelenggarakan retret tahunan untuk membangun kedalaman spiritual dan refleksi pribadi.
Meski berakar pada tradisi Katolik, sekolah-sekolah ini tetap inklusif. Siswa dari agama lain tidak dipaksa menganut keyakinan tertentu, tetapi diajak untuk hidup dalam semangat universal kasih, toleransi, dan penghargaan terhadap perbedaan.
Kegiatan doa bersama, aksi sosial lintas iman, dan kelas etika moral menjadi wadah memperkuat spiritualitas yang menyatukan, bukan memisahkan.
Para guru menjadi ujung tombak pewartaan iman. Lewat keteladanan hidup, kesabaran, dan kedekatan personal, mereka menyampaikan nilai-nilai Injil secara nyata. Dalam kelas maupun di luar, guru Katolik diharapkan menjadi pembawa damai dan kasih seperti Kristus.
Banyak guru aktif dalam kegiatan rohani seperti komunitas guru Katolik, misa mingguan, dan pembinaan iman guru sebagai bagian dari formasi berkelanjutan.
Menghidupi iman di bangku sekolah berarti menjadikan Tuhan nyata dalam keseharian. Sekolah Katolik di Yogyakarta menanamkan nilai-nilai rohani yang mendalam, membentuk generasi yang tak hanya cerdas, tetapi juga beriman, bijak, dan siap melayani.
Cerita Kasih
Oleh Yayasan DuaBelas Cahaya Kasih
No HP: 081904104102
Email: admin@ceritakasih.net
Web: CeritaKasih.net